Rabu, 15 Juni 2011

Dilematis

Hari ini mendapatkan kabar baik yang cukup membuatku bingung untuk menanggapinya. Management meng SMS " Dear Ikbal, uang untuk kuliah Insyaallah sudah bisa diambil besok ya..nuhun". Dug..perasaan senang bercampur bingungpun melanda.

Senang, karena itu berarti ada biaya yang bisa digunakan untuk membayar kuliah semester ini yang sudah hampir mau berakhir dan injury time. Bingung, karena itu berarti ketergantunganku akan semakin besar, padahal sungguh aku tak ingin dalam posisi yang dependen.

Memang sudah lama aku mengajukan "pinjaman" dengan alasan untuk biaya kuliah itu, hanya saja waktu itu managemen bilang bahwa saat ini kondisi keuangan sedang agak sulit. yasud lah, kupikir aku bisa cari jalan yang lain. Disisi lain mendengar itu aku juga agak tenang, karena itu berarti aku tak akan terlalu bergantung. Apalagi banyak selentingan yang beredar bahwa beberapa rekan kerja merasa "iri" dengan perlakuan managemen kepadaku selama ini, jadi kupikir ini adalah momentum yang tepat untuk menepis "tuduhan" itu, dan membuktikan bahwa pada dasarnya aku dan yang lain mendapatkan perlakuan yang sama dr manajemen.

Tapi kenyataannya, komitmen manajemen untuk membiayai kuliahku ternyata terus berlanjut..dan belum tahu lagi langkah apa yang harus kulakukan selanjutnya..

Allah maha pemberi petunjuk..Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk langkah yang terbaik yang harus kulakukan..Amiin

Senin, 13 Juni 2011

......lg melow......

Ingin sekali rasanya mencurahkan kesedihan sekaligus kebanggaanku terhadap jagoanku..tapi gak tahu harus mulai dari mana, dan caranya bagaimana. kukira tak ada satupun media yang sempurna untuk menggambarkan isi hatiku ini.
I love my son..

Aku tertegun, ketika membayangkan mu, pahlawan kecilku selama ini selalu berjuang untuk melawan sesuatu yang seolah "given" yang ada pada dirimu.

aku bangga , ketika melihatmu..bahkan hatiku saat ini bisa dengan jelas melihatmu berupaya ceria sambil berucap " dadah ayah..dadah dadah" sembari melambaikan tanganmu yang mungil itu..padahal kutahu hatimu sedih karena ku berusaha membujukmu untuk rela untuk kutinggalkan..aku janji, akan mengajakmu bermain bersama hingga kau terlelap.

Aku tahu..engkau akan menjadi "orang besar" yang menjadi kebanggaan kami, kedua orang tuamu, Agamamu, bahkan seluruh isi bangsa ini.

Aku tahu kau akan menjadi orang yang banyak memberi manfaat untuk sekitarmu, sesuai dengan makna filosofis yang terkandung dalam namamu

aku tahu..bahwa sebagian "lingkungan kita" tak mengerti sikapmu..tapi aku, dan bundamu,,,kini mengerti..dan kutahu kau akan terus berusaha..you're the best of mine..

Ayo anaku,,,kita harus bekerjasama untuk "menuntaskan" gangguan itu...

Selasa, 07 Juni 2011

Hampir Terkena Musibah, Mungkin Jawaban dr Do'a..

Dag dig dug...jantung langsung berdebar, keringat dingin mengucur..kaget luar biasa saat tersadar bahwa tas backpack yang berisi laptop, sejumlah uang..tidak ada dipunggungku. langsung berpikir apakah aku lupa nyimpen??kira-kira dimanakah tas itu berada? maklum tas itu lumayan gede, jadi ga mungkin terselip di kolong lemari atau dibawah kursi, atau bahkan disudut lain rumah yang kutinggali. sempat bertanya kepada mertua :"mah, kalo aku tadi bawa laptop ga??dan mertuakupun menjawab tidak tahu..barulah tersadar bahwa tas backpack ku ketinggalan di tukang cukur..

Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas, keluar pintu setengah berlari, mengeluarkan motor yang sebelumnya dah disimpan digarasi..dan ku starter..ngebuuut menuju tempat cukur yang tidak terlalu jauh dari rumah. Syukur Alhamdulillah...tas itu, masih setia menunggu di tempat parkir motorku saat dicukur tadi. padahal ada jeda waktu sekitar 1,5 jam antara saat aku sadar bahwa kehilangan tas, dan saat pertama kali meletakannya di samping motorku yang ku parkir ditempat cukur itu. waktu segitu sangat cukup dan leluasa bagi pelaku kejahatan untuk beraksi. atau bagi yang sebelumnya tidak berniat jahat, tetapi melihat ada kesempatan, lalu melakukan kejahatan (maklum menurut bang NAPI: kejahatan bukan hanya ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan, maka waspadalah waspadalah!) Disitulah kuasa Allah..dan kasih sayangNya kepada Ku..Alhamdulillah.

Jawaban dari Keraguan..
mengambil pelajaran dari kejadian itu, akupun berpikir, apa yang salah?? lalu akupun teringat bahwa sebelum pulang tadi ada tiga hal yang kuarasa aku bersalah sekaligus ragu :
1) menjelang pulang kantor, sudah sangat mepet waktu magrib. memang sebelumnya sempat ragu, apakah harus sholat dulu ataukah langsung pulang??konsekwensinya kalo langsung pulang aku ga akan sempat sholat magrib, maklum perjalanan kantor menuju rumah skitar 45 menit. namun ternyata bisikan setan membuatku langsung pilih pulang tanpa melaksanakan sholat yang menjadi kewajibanku.
2) ditengah perjalanan, kemudian muncul lagi pikiran, apakah langsung pulang atau makan malam dulu di pecel lele langgananku? kalo langsung pulang aku akan sempat sholat magrib, meskipun injury time, tapi konsekwensinya aku ga bisa makan pecel lele yang menggoda itu. sebaliknya, kalo makan dulu, pasti ga akan sempat sholat magrib. lagi-lagi setan yang ku dengarkan bisikannya, dan akupun pilih makan dulu, karena di rumah belum tentu tersedia makanan, apalagi aku akan mampir ke tukang cukur dulu, sebelum ke rumah (maklum rambutku dah dicomplain banyak orang, katanya "semrawut") dan masalah sholat, bisa di jama' dengan Isya..pikirku. dan akupun akhirnya makan dengan lahapnya
3) seperti biasanya, saat makan, kemudian dihampiri oleh anak kecil yang (juga langganan) minta-minta dengan memelas " pak..minta pak.." katanya begitu, dengan muka muram, kusut dan baju lusuhnya. biasanya, anak itu memang ku pesankan makanan juga, seperti apa yang biasa ku makan. kalo aku makan lele, maka dia pun dipesankan lele. Tapi kali ini setan meyakinkan ku bahwa minta-minta sudah jadi profesi bagi si anak itu, buktinya dia rutin minta-minta ditempat itu, okelah kalo dia memang butuh makan karena lapar, pasti aku akan belikan atau ku kasih uang, tetapi kalo minta-minta itu jadi profesi, ya No Way lah !, pikirku begitu. Dan akupun menolaknya, tak sepeserpun keluar dari kantong saku ku. Anak itu pun pergi entah kemana.

Namun, pergulatan pikiran itu, ternyata terus berlangsung meskipun anak itu sudah pergi. di satu sisi merasa bersalah dan berdosa karena menelantarkan anak itu, padahal aku mampu untuk membelikan nasi pecel atau memberikan beberapa peser uang disakuku, jangan-jangan dia lapar?!. Tapi disisi lain, aku merasa bahwa sudah sepatutnya aku bersikap begitu. sambil makan, kemudian bayar bahkan diperjalanan menuju pulang pun terus kepikiran seperti itu. dan akhirnya aku sadari bahwa ada malaikat dan setan yang sedang berupaya meyakinkanku tentang kebenaran yang sejati. Namun parahnya, aku tak mampu mengidentifikasi mana bisikan malaikat dan mana bisikan setan.

Untungnya, sambil mengendarai motor, aku ingat, bahwa Allah maha tahu. akupun berdoa kepadaNya. kalo apa yang telah kulakukan salah, tolong beritahu kepadaku bahwa itu salah. jangan Kau peringatkan aku, cukup beritahu saja ya Allah. Kira-kira begitulah doaku. sebetulnya doa itupun terpanjatkan karena perasaan bersalah yang semakin lama semakin besar.

Singkat cerita, sampailah kepada tujuanku sebelum ke rumah, yaitu Tukang Cukur!. kuparkirkan motor, lalu disitu pula ku buka jaket karena merasa kegerahan, otomatis sebelum buka jaket, aku harus menyimpan backpacku yang setia menempel dipunggungku. maka ku simpanlah backpack itu di dekat motor yang kuparkir. Tak sadar akupun langsung masuk kedalam ke tempat cukur tanpa menghiraukan backpak itu. kalo dipikir lagi memang ada yang aneh, saat aku masuk, motor yang sudah kusandarkanpun jatur terguling, alhasil bodinya lecet. langsung ku berdirikan dan kustandarkan dan kupastikan motor itu gak terguling lagi. saat terguling itulah aku berpikir, ooooh ini toh jawaban doaku, Allah memberitahuku bahwa apa yang telah ku lakukan salah. oke oke oke..dan rambutku pun dicukur seperti rencananya.

setelah selesai, lalu pulanglah aku menuju rumahku, dan tak sadar bahwa back pack itu ditinggal ditempat itu..

Allah memberitahu dengan berbagai cara...

Kamis, 02 Juni 2011

Pressure dah kendur..saatnya Leisure..Berliburrrr...

Hampir saja jadi kenyataan...bersukur...Alhamdulillah atas kebaikanMu ya Allah..sungguh kenikmatan yang luar biasa. meskipun di hari ini semua orang yang bekerja cuti bersama sesuai dengan keputusan mentri PAN dan aku ga libur, bahkan masuk kerja seperti hari biasa, tak mengapa..tetap syukur karena pressure sudah mulai kendur dan siap-siap untuk leisure..

Beberapa minggu terakhir, aku merasakan stress yang lumayan,,kareena urusan pekerjaan yang harus kulakukan sementara nuraniku sulit menyetujuinya. tlah berupaya berulang kali untuk melakkan negosiasi atau lobby dengan nuraniku, tapi tetap sulit rasanya. akhirnya yang terjadi malah streess..kerjaannya tetap kulakukan sebisa mungkin, meskipun bertentangan dengan hati nurani.

Terlebih lagi, disaan menjelang hari libur, tepatnya hari senin/ selasa kemarin..ada tugas lanjutan yang harus kulakukan, dan ini jelas mengancam rencana libur bersama keluargaku yang tlah diangan-angankan sebelumnya..terus terang tidur pun ga nyenyak. akhirnya aku keluhkan kepada istri dan Allah, tuhanku. Alhamdulillah puji syukur karena Allah menganugerahkan Istri kepadaku yang luar biasa, penuh kasih sayang dan pengertian..sehingga aku berani menatap apapun yang akan ku lakukan. Disisi lain Allah pun memberikan jalan dan kemudahan yang tak pernah kusangka-sangka..hingga akhirnya Insyaallah Liburan keluargaku tak lagi terancam..

Bahkan saat ini (saat nulis blog ini) , aku sambil menunggu kedatangan istri dan anaku menjemput,,jauh-jauh dari Bogor..

Libur tlah tiba..siap siap dulu aaah..selamat berlibur untuk semuanya..

Kamis, 05 Mei 2011

Tentang Budaya malu..

Bangsa ini telah dihinggapi penyakit yang sedemikian kritis, penyakit ini yang saya yakini menyebabkan krisis multidimensi. Semakin hari-semakin parah, upaya reformasi yang digulirkan oleh sekelompok masyaratkat -yang menamakan dirinya reformis- pada tahun 1998 tak mampu menjadi obat yang mujarab terhadap penyakit ini. Penyakit yang ingin saya tulis dalam hal ini adalah "malu".

Korupsi yang terjadi diberbagai sektor, akibat koruptor tersebut tak punya malu. Baik korupsi dikalangan birokrasi maupun di kalangan private sector, pada dasarnya sama saja, akibat dari tak punya rasa malu.

Bagi korupsi di birokrasi, sudah dipastikan koruptor tak lagi merasa "uang"itu bukan haknya, bahkan diapun tak pernah meragukan bahwa dia dibayar untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam hal ini, dia dibayar oleh masyarakat melalui pajak dan retribusi. Disisilain, anggaran yang dikelola pemerintahpun pada prinsipnya adalah hasil "patungan" rakyat yang menyisihkan dari keringat-keringat yang dikumpulkan untuk membayar pajak dan retribusi. Tujuan anggaran yang dikelola itu- dalam konteks pelayanan publik- adalah mensejahterakan rakyat.

Dasar koruptor tak mersa malu ketika "mencuri" uang yang dikumpulkan rakyat. Uang yang harusnya digunakan untuk meningkatkan pelayanan demi kesejahteraan rakyat dicuri begitu saja untuk kepentingan perut mereka. Padahal untuk pelayanan tersebut, mereka telah dibayar oleh rakyat. Masih saja uang itu dicuri..dasar tak punya malu...iiihh jijik.

saya tak pernah percaya bila ada yang bilang bahwa korupsi birokrasi akibat dari tingkat kesejahteraan yang rendah (gaji yang kecil). sesungguhnya tidak ada hubungan langsung antara korupsi birokrasi dengan minimnya kesejahteraan. (lagi-lagi kesejahteraan harus direpresentasikan oleh penerimaan gaji..tapi tak mengapalah..)

Saya berani menjelaskan beberapa hal dengan pertanyaan : apakah kelakuan gayus, sebagai makelar kasus bahkan menilep pajak akibat dari gaji yang dia terima sangat kecil??. Dia Golongan III a, menerima gaji sekitar 11 juta..masih kecil??
apakah beberapa oknum anggota DPR yang korupsi cek pelawat saat pemilihan gubernur senoir BI, karena gaji mereka kecil??pendapatan mereka lebih dari 30 juta perbulannya..
apakah korupsi dibidang pengadaan yang menyebabkan kebocoran anggaran sebesar 40-50 % APBN akibat dari gaji yang kecil?? jelas-jelas karena rakus dan ga punya malu..

Budaya tak punya malu pun kini tak hanya hinggap dilingkungan birokrasi, di kalangan private sector pun begitu. sungguh tak ada pembenaran dari syari'at atau hukum positif negara ini yang membolehkan mencuri, sekecil apapun loh..!. mencuri tetap mencuri, korupsi tetap mencuri..

"Dosa" memang urusan yang bersangkutan dengan Tuhannya, tapi dari sisi sebab akibat, korupsi menyebabkan kerugian pihak lain. korupsi adalah pemindahan hak secara paksa yang asalnya hak orang menjadi milik koruptor.
korupsi adalah perampokan...

Insyaflah wahai para koruptor...hak orang lain telah kau renggut dengan kelicikanmu..malu lah..!

Maling seringkali teriak maling..ini modus yang sudah lumrah yang dilakukan maling..tujuannya satu, untuk mengesankan bahwa dirinya adalah orang bersih dan bebas dari dosa terlaknat tersebut..

Selasa, 03 Mei 2011

PPTSP dan kapitalisme

Cerita awal

Telah banyak penelitiaan yang menunjukan bahwa masalah utama perizinan yang dihadapi di daerah adalah terlalu banyak izin, terlalu lama, berbelit-belit, dan terlalu mahal. Masyarakat dan kalangan dunia usaha sering mengeluhkan proses pelayanan perizinan oleh pemerintah yang tidak memiliki kejelasan prosedur, tidak transparan, waktu pemrosesan izin yang tidak pasti, dan tingginya biaya yang harus dikeluarkan terutama terkait dengan dengan biaya-biaya yang tidak resmi. Hal ini menimbulkan image buruk terhadap kinerja pemerintahan dan menurunnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Sebagai upaya untuk mempercepat proses pemulihan iklim investasi ke arah yang lebih kondusif, sejak tahun 1997 pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan pelayanan publik. Di antaranya dengan menerbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 503/125/PUOD tanggal 16 januari 1997 tentang pembentukan Pelayanan Terpadu satu Atap dan Instruksi Menteri Dalam negeri No. 25 tahun 1998 tenteng Pelayanan Terpadu Satu Atap. Terakhir, pemerintah berupaya untuk mewujudkan pelayanan publik yang cepat, tepat, murah, mudah, transparan, pasti, dan terjangkau dengan menerbitkan Permendagri No. 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu sebagai bentuk implementasi dari Inpres No. 3 Tahun 2006 tentang paket kebijakan investasi. Ide dasar dari kebijakan ini adalah mengintegrasikan seluruh proses perizinan ke dalam suatu sistem pelayanan perizinan terpadu satu pintu.

Reformasi dan "pesanan"

Gelombang reformasi birokrasi dibidang pelayanan perizinan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, semakin hari semakin besar. Selain dampak dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan, reformasi ini pun berjalan akibat kontribusi yang sangat besar dari berbagai lembaga donor. Dampaknya, hampir semua daerah berlomba dalam membentuk PPTSP, seolah-olah permendagri 24/2006, sudah menjadi kitab suci yang wajib untuk ditaati dan "dosa'' bagi siapapun yang mengabaikannya.

Salah satu contohnya adalah The Asia Foundation (TAF). Lembaga yang sering dianggap bekerja untuk kepentingan Amerika ini, telah banyak memberikan kontribusinya dalam reformasi perizinan. Tak sedikit pihak yang mencibir, jika ada yang bilang bahwa TAF dianggap tidak punya kepentingan. Seolah-olah apapun yang dilakukan Amerika, tak akan pernah lepas dari kepentingan Negara tersebut terhadap Indonesia, termasuk dalam reformasi ini pun. Apalagi Amerika sangat lekat dengan ideologi kapitalisme, yang juga kalo dihubung-hubungkan, ternyata memiliki hubungan erat dengan perizinan.

Reformasi pelayanan perizinan melalui pembentukan PPTSP pada prinsipnya adalah mempermudah dunia usaha untuk melakukan formalisasi usahanya. Dalam konteks inilah, TAF dianggap sebagai kepanjangan tangan dari investor Amerika yang memiliki kepentingan terhadap sumber-sumber daya yang dimiliki negara ini. Dengan kemudahan yang diberikan PPTSP, diharapkan dapat memuluskan niat mereka untuk berinvestasi di negeri ini. Kepentingan dalam hal ini sangat jelas, yaitu ekonomi. kira-kira itulah analisis sebagian pihak yang mencibir tersebut.

Prinsip Pengendalian

Terlepas dari anggapan tersebut benar atau salah, penulis ingin menyampaikan beberapa hal, sebagai berikut :

a. "Izin" bukan hanya untuk aktifitas Usaha.

Jika Amerika ingin berinvestasi di Indonesia, maka harus memiliki izin. Dinegara manapun, perizinan selalu diterapkan bagi siapapun yang akan melakukan aktifitas usaha. Namun perlu disadari bahwa perizinan tidak hanya terkait dengan usaha. perizinan pun sangat terkait dengan hajat hidup sehari-hari masyarakat. misalnya IMB rumah, merupakan salah satu izin yang sangat erat dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu penyederhanaan izin, khususnya IMB sangat bermanfaat bagi masyarakat

b. "Izin" adalah alat kendali pemerintah.

seiring dengan berjalannya Otonomi daerah, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang besar dalam menentukan daerahnya kedepan. Dalam titik ini, berarti pemerintah daerah dapat mengendalikan daerahnya melalui perizinan. Hal ini karena perizinan merupakan salah satu alat pengendalian kebijakan. persyaratan teknis memang diperlakukan sama bagi semua pemohon, tetapi kepentingan "daerah" dapat menjadi prasyarat bagi pemenuhan syarat-syarat teknis tersebut.

sebagai contoh: Kabupaten Purwakarta memiliki kebijakan melindungi perekonomian usaha rakyat melalui pembatasan pendirian minimarket (sebut saja : Alfa****) di kecamatan-kecamatan tertentu. kebijakan ini diberlakukan karena keberadaan alfa*** dianggap dapat mematikan usaha rakyat, misalnya pasar-pasar tradisional, warung-warung skala rumah tangga yang akhirnya bangkrut akibat dari keberadaan minimarket tersebut. pada prinsipnya pengambil kebijakan sadar betul bahwa rakyatnya belum bisa bersaing dengan pemilik modal besar. oleh karena itu keluarlah kebijakan tersebut.

Praktek yang dilakukan sebagai pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan tersebut, Pemkab melaksanakannya melalui perizinan. Setiap permohonan perizinan pendirian alfa*** di daerah tertentu sudah bisa dipastikan di tolak oleh BPMP2T. dengan jalan demikian, minimarket dipurwakarta berhasil dibatasi. ini namanya kebijakan yang efektif dalam tataran rumusan kebijakan maupun implementasinya.

nah, terkait dengan isu kapitalisasi perizinan, investor yang masuk ke daerah tertentu pun pada prinsipnya bisa dibatasi melalui perizinan. Ingat, permohonan perizinan harus memenuhi kriteria pra persyaratan, persyaratan administrasi dan juga teknis. pra-persyaratan dan persyaratan teknis bisa dikendalikan untuk kepentingan daerah.

c. manfaat PPTSP untuk semua

seperti yang dikemukakan sebelumnya, terlepas dari donor punya agenda penting ekonomi dibalik PPTSP atau tidak, yang pasti reformasi birokrasi dibidang perizinan ini menguntungkan bagi semua pihak. bagi masyarakat umum, memberikan kemudahan dalam memproses izin, baik izin usaha-maupun izin lainnya; Bagi pemerintah, mempermudah koordinasi diantara pemangku kepentingan dalam rangka mengendalikan kebijakan daerah, serta mengikis korupsi atau pungli yang sangat erat kaitannya dengan pelayanan perizinan; dan bagi pelaku usaha, mendapatkan kemudahan jika seluruh prasyarat dan persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah setempat dapat dipenuhi.

Intinya, terlepas dari agenda apapun yang dimiliki oleh donor2 tersebut, selama dapat seiring dengan manfaat yang bisa diambil oleh masyarakat, maka manfaatkan saja. Apalagi dalam konteks perizinan, tidak ada pesan-pesan khusus yang mengancam kedaulatan negara dan rakyat ini kok.


Dasar Anak Kampung!

Dasar anak kampung! mungkin itulah pernyataan orang lain ketika mengetahui keinginan, dan harapanku, yang secara pikir seolah-olah ingin membalikan dunia, setidaknya Indonesia.

yuppss aku adalah anak kampung, memang sekampung-kampungnya orang kampung, terlahir di kampung, besar di kampung, kecuali sempat mengenyam pendidikan (PT) agak sedikit kota. "kampung" selalu identik dengan keterbelakangan, dan kemiskinan. Dua kondisi itu bak sahabat sejati yang selalu beriringan. kalo ada keterbelakangan, pasti ada kemiskinan, begitupun sebaliknya.

jika ada yang mengatakan aku orang kampung, seharusnya tak tersinggung. karena begitulah adanya. tapi aku ingin membuktikan bahwa "kekampungan-ku" tak identik dengan stigma kemiskinan dan keterbelakangan.

terlahir sebagai anak dari seorang ayah (asli dari kampung) dan ibu (agak kampung). masa-masa kecil keseharianku dihabiskan dengan main layang-layang, kelereng, gatrik dengan teman-teman sekampungku yang khas dengan "budug" yang ditandai dengan nanah dimana-mana, termasuk di kepala. ya, kami semua begitu (termasuk akupun pernah begitu), tapi akupun tak tahu mengapa pada saat itu hampir semua dari kami, mengalami hal itu. entahlah apakah kekurangan gizi akibat kemiskinan, atau pola sanitasi yang tidak baik. hihihihi...dasar anak kampung, aku pun merasa apa yang terjadi pada masa itu seolah biasa-biasa saja. gak aneh sama sekali.

Aku masih jauh beruntung dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Meskipun hidup di kampung dengan berbagai keterbatasan finansial, yang juga membatasiku dalam mengakses kehidupan yang lebih baik, Aku memiliki ayah yang -menurutku- visioner (ceileeee...prikitiw..). Memiliki pandangan jauh kedepan. Keterbatasan ekonomi kami, justru malah membuat ayahku sering berpesan untuk menggapai pendidikan setinggi langit (ketinggian ga ya..?), seraya mengutip hadis2 Rasulullah biasanya. "jangan malu karena miskin dan kampung, percaya dirilah karena kamu berilmu" itulah kira2 pesan yang saya ingat dari ayah saya pada masa-masa itu. "ulah dusun, kudu wanter!" , artinya " jangan merasa rendah diri, harus percaya diri!". duh pesan itu...(mengenang). "moal ngawarisan harta, da teu boga!", artinya bahwa beliau ga akan mewarisi ku dengan harta, karena ga punya!.

Pandangan tentang itu semakin terbukti, ketika orangtuaku bersusah payah menyekolahkan ku dan Teteh-ku, padahal kondisi ekonomi keluarga kami (pada waktu itu) luarbiasa sangat tak menentu. Disisi lain, tak ada satupun anak dari kampungku yang berpendidikan SMA, hanya aku dan tetehku yang mengalami itu. Apalagi ketika kami masuk perguruan tinggi. waduuuuh ga ada sama sekali. (jadi inget,,,ortuku melakukan segala cara, jual ini-jual itu, bekerja segala macam, semata-mata untuk menyekolahkan kami..semoga Allah memuliakannya di dunia dan akhirat. Amiin)

Ayahku, katanya lulusan SD (pada waktu itu) lalu sempat ke pesantren (sebentar). Tapi beliau yang pertama kali memperkenalkanku ke wilayah sosial dan politik. Dalam konteks itu aku menganggap ayahku sangat berwawasan luas, karena begitu rajin mengikuti perkembangan sosial dan politik, baik di tingkat nasional, bahkan internasional. Mungkin terpengaruh oleh itu pulalah, sehingga aku di beri nama "iqbal", mungkin karena terkagum-kagum sama seorang tokoh internasional yang terkenal luar biasa.

Ayahku tak pernah mau diganggu kalau sedang menyimak berita tentang politik. Dengan bahasa-bahasa populer yang sering diistilahkannya, (biasanya selalu ada akhiran "isme", "si", log de el el), membuatku sering mengaguminya (meskipun aku ga ngerti maksudnya), pada masa itu. Meskipun begitu, bagi sebagian orang "kota" ,menganggap ayahku "legeg"( loba gaya). bahkan ada satu statemen dari salah satu orang saudaraku (orang kota yang menganggap dirinya lebih hebat dan pintar) dengan sinis berkata" halah pira lulusan SD, loba gaya, sok!" dan parahnya itu terdengar oleh ku, sebagai anak dari orang yang dihina olehnya..arghhhhhh..ingin ku ludahi aja tu orang..(aku benci sekali sama orang itu, sampe sekarang!)

kehidupan keluargaku, nila-nilai yang ditanamkan ortu-ku, serta hinaan-hinaan yang diterima, mungkin yang telah membentuk ku seperti saat ini. aku lebih cenderung tertarik dengan permasalahan sosial/politik, dibandingkan dengan permasalahan teknologi dan ilmu alam.

kecenderungan itu kian tinggi, karena saat ini aku bergabung di salah satu LSM di Bandung. sudah hampir 5 tahun lebih saya di LSM tersebut.

Sebagai anak kampung, aku bercita-cita kembali ke kampungku suatu saat nanti. Bukan sebagai anak kampung yang "budug" , bodoh, terbelakang dan kampungan. Bukan pula sebagai anak kampung yang hanya memikirkan "hidup"nya hari ini. Tetapi anak kampung yang siap, merubah stigma itu semua. Anak kampung yang siap melakukan perubahan. Anak kampung yang bercita-cita memajukan kehidupan sosial. Anak kampung kampung yang ingin menyiapkan langkah-langkah untuk jutaan tahun kedepan, untuk kesejahteraan masyarakat dan pembangunan.

huuuuh dasar anak kampung!!